Sirup atau Suspensi? Memahami Perbedaan Sediaan Obat Cair
Jangan Salah Pilih! Kupas Tuntas Bedanya Sirup dan Suspensi Obat Cair
Oleh: Dinar Ropiah, Kania Indrawati, Syifa Maptuha, M. Fadly Saputra Pratama Universitas Buana Perjuangan Karawang
Pernahkah Anda bingung membedakan obat cair yang bening dari yang agak keruh? Mungkin Anda pernah mendengar kata "suspensi" atau "sirup" dan tidak tahu apa artinya. Jangan khawatir; Anda tidak sendirian! Banyak orang tua, pengasuh, bahkan kita sendiri sering bertanya-tanya apa yang membedakan kedua jenis obat cair ini. Namun, memahami perbedaan ini sangat penting untuk pengobatan yang aman dan berhasil.
Bayangkan Anda memberi anak Anda obat penurun panas. Jika yang satu tampak seperti air gula, yang lain harus dikocok sebelum diberikan karena ada endapannya. Ini adalah perbedaan utama antara suspensi dan sirup. Kami akan memeriksa secara menyeluruh untuk menghindari pilihan yang tidak tepat lagi.
Apa Perbedaan Sirup dan Suspensi?
Sirup itu seperti larutan gula yang sangat kental
Biasanya, sirup dibuat dengan mencampurkan gula (terutama gula pasir) dengan air. Perbandingan gulanya sangat banyak, sekitar 64-66% dari total cairan. Bayangkan kamu membuat teh manis, tapi gulanya kamu masukkan banyak sekali sampai airnya jadi agak lengket dan manisnya kuat. Nah, itu mirip seperti sirup.
Suspensi itu seperti campuran air dengan serbuk yang tidak larut
Sediaan yang disebut suspensi adalah campuran bahan obat padat yang halus dan tidak larut yang terdispersi dalam cairan pembawa. Endapan harus halus dan segera terdispersi kembali saat dikocok perlahan-lahan. Agar sediaan mudah dikocok dan dituang, keketalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi. Bayangkan kamu mencampurkan pasir ke dalam air, lalu kamu aduk. Pasirnya akan tersebar di dalam air, tapi lama-kelamaan pasirnya akan mengendap ke bawah. Nah, suspensi itu mirip seperti itu. Di dalam suspensi, ada bahan obat yang bentuknya serbuk sangat halus. Serbuk ini tidak bisa larut dalam cairan pembawanya (biasanya air). Jadi, serbuk obat ini akan tersebar merata di dalam cairan tersebut.
Kapan Memilih Sirup atau Suspensi?
Pilihan antara sirup atau suspensi tergantung pada jenis obat yang digunakan dan kebutuhan pasien. Sirup lebih cocok digunakan untuk obat yang mudah larut dalam air dan membutuhkan rasa manis untuk meningkatkan kepatuhan pasien, terutama pada anak-anak. Di sisi lain, suspensi digunakan ketika obat tidak dapat larut dalam air atau ketika dosis yang lebih tinggi diperlukan, dan pengendapan partikel obat tidak memengaruhi efektivitas.
Bagaimana Cara Penggunaan Sediaan sirup?
Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat semakin waspada saat menggunakan obat sirup. Ini adalah hasil dari ratusan kasus gagal ginjal akut anak yang diduga disebabkan oleh penggunaan beberapa merek obat sirup. Di dalam negeri, obat sirup, terutama yang diberikan kepada anak-anak, sangat populer. Cemaran Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) melebihi ambang batas telah ditemukan dalam beberapa merek obat. Kedua bahan itu beracun, berpotensi menyebabkan gagal ginjal dan mengganggu jantung dan paru-paru. Akibatnya, BPOM secara resmi melarang perusahaan farmasi untuk menambahkan EG dan DEG ke dalam pelarut obat sirup.
Anda harus mengonsumsi obat sirup hanya sesuai dengan anjuran yang tertulis pada anjuran penggunaan atau sesuai dengan resep yang diberikan oleh dokter Anda. Hal ini dilakukan untuk menghindari overdosis, yang dapat menyebabkan masalah pada beberapa organ.
Beberapa tips yang bisa diikuti adalah :
1. Pastikan untuk mengambil obat sesuai dosis dan jangan melebihi aturan pakai.
2. Perhatikan peringatan penggunaan obat yang tercantum pada kemasan dengan teliti.
3. Sebisa mungkin, jangan gunakan obat sirup yang sudah terbuka atau tersimpan lama.
4. Jika gejala tidak berkurang setelah tiga hari penggunaan obat bebas, konsumen sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter, apoteker, atau profesional kesehatan lainnya. Ini juga berlaku jika penggunaan obat bebas terbatas pada upaya swamedikasi atau pengobatan sendiri.
5. Jika efek samping berat seperti alergi muncul, segera hentikan penggunaan obat dan temui profesional kesehatan dengan memberi tahu mereka tentang semua obat yang sedang dikonsumsi.
Bagaimana Cara Penggunaan Sediaan Suspensi?
Obat yang tersedia dalam bentuk suspensi memerlukan perlakuan khusus saat digunakan karena komponen aktifnya tidak sepenuhnya larut dalam cairan dan bisa mengendap.
1. Pastikan obat belum melewati tanggal kedaluwarsa. Periksa instruksi pemakaian yang ada pada label atau leaflet yang disertakan
2. Suspensi perlu diguncang terlebih dahulu agar partikel obat dapat terdistribusi dengan baik
3. Guncang botol dengan kuat selama 10-15 detik sebelum menuangkannya
4. Menggunakan sendok takar, gelas ukur, atau pipet/dropper yang disertakan. Jangan menggunakan sendok makan atau sendok teh biasa, hal ini bisa menyebabkan dosis tidak akurat
5. Ikuti petunjuk dosis yang diberikan oleh dokter atau yang tertera pada kemasan
6. Hindari konsumsi lebih dari dosis yang disarankan untuk mencegah terjadinya efek samping.
Beberapa suspensi perlu dikonsumsi sebelum atau sesudah makan, tergantung jenis obatnya. Simpan di tempat yang sejuk dan kering, jauh dari sinar matahari langsung. Hentikan penggunaan jika terjadi reaksi alergi seperti gatal, bengkak, atau sesak napas.
Meskipun keduanya berbentuk cairan, sirup dan suspensi memiliki karakteristik yang berbeda dalam hal cara kerja, kestabilan, dan cara penggunaannya. Penting untuk mengetahui perbedaan ini agar Anda bisa memilih sediaan obat yang paling tepat sesuai dengan jenis obat dan kondisi yang sedang dihadapi. Jika Anda ragu atau memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai sediaan obat cair ini, sebaiknya konsultasikan dengan apoteker atau dokter untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat.
Referensi
Fickri, D. Z. (2018). Formulasi dan uji stabilitas sediaan sirup anti alergi dengan bahan aktif Chlorpheniramin maleat (CTM). Journal of Pharmaceutical Care Anwar Medika (J-PhAM), 1(1), 16-24.
Sarmalina, Sarmadi, Rahmi, M., Mangunsong, s. (2019). PENINGKATAN KAPASITAS IBU-IBU ARISAN SEBAGAI INISIATOR GERAKAN MASYARAKAT CERDAS MENGGUNAKAN OBAT(GEMA CERMAT). Jurnal LINK, 15 (1), 36- 41.
Sayyidah, Fadhilah, H., Wafa, Purwaningsih, S, N., Haryani, S., Melizsa, Satria, M, B., Rahajeng, K, S., Oktavia, N, M., Wijanarko, D. (2023). FACTS OR HOAXES OF ALL DANGEROUS SYRUPS, Jurnal Abdi Masyarakat, 4(1), 92-93.
Wijaya, M, H., Lina, N, R. (2021). FORMULASI DAN EVALUASI FISIK SEDIAAN SUSPENSI KOMBINASI EKSTRAK BIJI PEPAYA (Carica papaya L.) DAN UMBI RUMPUT TEKI (Cyperus rotundus L.) DENGAN VARIASI KONSENTRASI SUSPENDING AGENT PGA (Pulvis Gummi Arabici) DAN CMC-NA (Carboxymethylcellulosum Natrium). Cendekia Journal of Pharmacy, 5(2), 166-168.
wow sekarang aku jadi tau, terimakasih mist pillar!
BalasHapusSenikmat sirup Marjan kah?
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSenikma itu apa ka?
BalasHapusMarjann semaniss gw
BalasHapuswahh thank u, ini ngebantu banget lohh
BalasHapusIni informasi yang sangat membantu dan menambah pengetahuan
BalasHapusEdukasi keren
BalasHapusGut information, sangat membantu sekali
BalasHapusTerimakasih, informasi yang sangat membantu👍🏻
BalasHapuskeren sekali sangat membantu
BalasHapuskerennn
BalasHapusBaguss
BalasHapusBagus
BalasHapusSangat bagus, informasi yang sangat membantu dan menambah pengetahuan mantap
BalasHapus